Sesungguhnya tinta ini terhenti karena malu dan ingin bersembunyi dari orang yang disegani oleh para malaikat, yaitu “Zhun an-Nuraini”
yang telah dimuliakan dengan kemuliaan yang tidak mungkin diperoleh
oleh manusia manapun. Dialah satu-satunya orang yang menjadi pendamping
dua putri seorang Nabi, semenjak Allah menciptakan bumi ini dan hingga
hari kiamat tiba. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah
menikahkan Utsman dengan putrinya yang bernama Ruqayyah dan setelah
Ruqayyah wafat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahkannya
dengan saudara perempuan Ruqayyah yang bernama Ummu Kultsum. Karena
itulah Utsman digelari “Zhu an-Nuraini” (pemilik dua cahaya).
Adalah Utsman seorang yang mulia lagi dermawan. Kedermawanannya telah mencapai puncaknya ketika dia membiayai “jaisy al-‘usrah” (pasukan zaman sulit) dengan seorang diri. Sebagaimana ia yang telah membeli sumur “Rumah” lalu diwaqafkan untuk umat Islam. Begitu pula ia telah membeli tanah di sekitar masjid Nabawi kemudian diwaqafkan untuk masjid. Sungguh kemuliaan yang luar biasa.
Dia adalah pecinta ahlul bait yang sangat setia. Dialah yang membantu
Ali ibn Abi Thalib ketika menikah dengan Fathimah Radhiallahu ‘Anha.
Utsman telah membiayai pernikahannya dari harta Utsman sendiri.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjadikan
Utsman sebagai saksi bagi pernikahan Fathimah Radhiallahu ‘Anha.[1]
Dan jika Syi’ah telah memfokuskan kecintaannya kepada Ali karena
pernikahannya dengan putri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka
Utsman telah menikahi dua putri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Yang secara mutlak tidak bisa disaingi oleh
siapapun.
Al-Majlisi seorang Syi’ah yang ahli dalam mencela dan melaknat telah menyebutkan dalam kitabnya “Hayat al-Qulub”, menukil dari Ibnu Bawaih al-Qummi dengan sanadnya yang shahih yang handal:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki anak
dari Khadijah: al-Qasim, Abdullah yang bergelar ath-Thahir, Ummu
Kultsum, Ruqayyah, Fathimah dan Zainab[2].
Sebagaimana Utsman telah menikahi Ummu Kultsum, dan Ummu Kultsum
meninggal dunia sebelum sempat melakukan hubungan suami istri. Kemudian
ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak keluar ke perang
Badar menikahkannya dengan Ruqayyah”.[3]
Sementara menurut riwayat al-Himyari dari Ja’far ibn Muhammad dari
bapaknya, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
memiliki anak dari Khadijah: al-Qasim, ath-Thahir, Ummu Kultsum,
Ruqayyah, Fathimah dan Zainab. Ali ‘Alaihi Sallam menikah dengan
Fathimah Ali ‘Alaihi Sallam. Abu al-Ash ibn ar-Rabi’ menikahi Zainab dan
Abu al-Ash adalah dari Bani Umayyah. Sedangkan Utsman menikahi Ummu
Kultsum, sebelum berhubungan Ummu Kultsum meninggal dunia maka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggantinya dengan
menikahkannya dengan Ruqayyah”.[4]
Dengan riwayat seperti ini al-Abbas al-Qummi meriwayatkan dalam Muntaha al-Amal, dari Ja’far ash-Shadiq, dan al-Maqani dalam Tanqih ar-Rijal.[5]
Asy-Syari juga mengakui dengan menulis: “Utsman tidaklah di bawah “asy-syaikhaini” (Abu Bakar dan Umar) dalam hal “shuhbah” (menyertai Nabi) dan “sabiqah”
(dulunya masuk Islam). Dia termasuk Muslim yang dihormati, menantu
Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dua kali, menikah dengan putri Rasul
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Ruqayyah dan memiliki seorang putra yang
bernama Abdulah, meninggal ketika berusia 6 tahun. Dan ibunya telah
meninggal sebelum meninggalnya Abdullah. Kemudian Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam menikahkan dengan putrinya yang kedua, Ummu Kultsum.
Tidak lama Ummu Kultsum hidup bersamanya, dia meninggal pada waktu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup”.[6]
Al-Mas’udi juga menyebut hal yang senada dalam Muruj adz-Dzahab.[7] Inilah Utsman wahai orang-orang Syi’ah jika kalian mengetahui!
Di tengah gelombang fitnah yang melanda ibu kota khilafah, Ali
Radhiallahu ‘Anhu memuji dan menyanjung Utsman Radhiallahu ‘Anhu, dengan
ungkapan-ungkapan yang muaranya adalah “cinta Utsman”.
Ia berkata: “Sesungguhnya orang-orang di belakangku telah meminta
penjelasan antara engkau dan mereka. Demi Allah aku tidak tahu apa yang
harus aku katakan kepadamu! Aku tidak mengetahui sesuatu yang engkau
tidak tahu, aku tidak (mungkin) menunjukkan kepadamu sesuatu yang engkau
tidak tahu. Sesungguhnya engkau mengetahui apa yang kami ketahui. Kami
tidak pernah mengetahui sesuatu kemudian memberitahukan kepadamu. Kami
tidak pernah mengetahui rahasia kemudian menyampaikannya kepadamu.
Engkau telah melihat apa yang kami lihat, engkau mendengar apa yang kami
dengar. Engkau telah menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
sebagaimana kami. Ibnu Quhafah (Abu Bakar) dan Ibnu al-Khaththab
tidaklah lebih utama dari mu dalam beramal, engkau adalah lebih dekat
ikatan kekeluargaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
dari pada keduanya. Engkau telah mendapatkan dari putri-putrinya apa
yang tidak diperoleh oleh keduanya. Maka bertakwalah kepada Allah dalam
dirimu! Sesungguhnya, Demi Allah engkau tidak melihat dari kebutaan dan
tidak mengetahui dari kebodohan”.[8]
Wahai Syi’ah yang melihat dari kebodohan dan yang berbicara dari
kebodohan. Apa komentar kalian tentang ucapan Ali Radhiallahu ‘Anhu!
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mendudukkan Utsman
bagaikan hati. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda: “Abu Bakar dariku ibarat pendengaran dan Umar bagaikan
penglihatan sedangkan Utsman berkedudukan seperti hati (fu’ad).[9] Al-Hasan dan Al-Husain Radhiallahu ‘Anhu juga telah memujinya.[10]
Sebagaimana Ja’far ibn al-Baqir telah menyanjungnya; dia berkata: “Ada
yang menyeru dari langit di pagi hari ‘ingatlah sesungguhnya Ali ‘Alaihi
Sallam dan Syi’ah (pendukung)nya mereka adalah orang-orang yang
beruntung (faizun). Dia berkata: ‘dan ada yang mengundang di sore hari,
ingatlah Utsman dan Syi’ahnya, mereka adalah faizun”[11]. Pujian lain diucapkan oleh Ja’far ibn al-Baqir pada waktu perjanjian Hudaibiyah berlangsung. Dia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus kepadanya Utsman
ibn Affan. Beliau berkata: “Berangkatlah menuju kaummu dari orang-orang
Mukmin. Gembirakan mereka dengan janji Allah kepadaku berupa ‘penaklukan
kota Makkah’”. Tatkala Utsman berangkat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam membai’at sahabatnya dan memukulkan tangannya yang satu
dengan tangannya yang lain sambil berucap ini bai’at untuk Utsman. Maka
orang-orang Islam berkata: “sungguh beruntung Utsman dia telah thawaf di
Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwah dan bertahallul” (maksud mereka
Utsman telah enak-enakkan di Makkah dengan melaksanakan Umrah,
sementara mereka tertahan tidak bisa masuk Makkah). Maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak mungkin Utsman melakukan
itu”. Ketika Utsman datang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bertanya: “Apakah engkau telah thawaf di Ka’bah?” Utsman dengan tegas
menjawab: “Aku tidak akan mungkin thawaf di Ka’bah sementara Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum melakukan thawaf”. Kemudian dia
menyebut kisah ini sampai akhirnya”.[12]
Ahlul bait senantiasa menjaga keserasiannya dan kecintaannya yang
tulus terhadap Utsman. Dan mereka telah berjihad di bawah panji-panji
Utsman.
Dia telah menyiapkan pasukan untuk menuju Barqah, Tharabulus
(Tripoli) dan Afrika di bawah komando Abdullah ibn Abi as-Sarh. Dan di
antara anggota pasukannya adalah al-Hasan dan al-Husain, dua cucu Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga Abdullah ibn Ja’far ibn Abi Thalib
dan paman mereka, putra paman Nabi mereka yaitu Abdullah ibn Abbas
-semoga Allah meridhai semuanya[13].
Sebagaimana al-Hasan, al-Husain dan Ibnu Abbas ikut bergabung di bawah
komando al-Ash al-Umawiy di dalam berbagai pertempuran di Khurasan,
Thubrustan dan Jurjan.[14]
Sebagaimana Utsman Radhiallahu ‘Anhu telah menempatkan ahlul bait
pada posisi penting dan jabatan yang tinggi, dan mereka menerimanya. Ini
semua menunjukkan kesatuan Utsman dengan ahlul bait dalam keserasian.
Tidak benar apa yang dirancang oleh para cucu Majusi dari berbagai macam
dongeng dan khurafat. Yang menduduki jabatan hakim agung pada zaman
Utsman adalah al-Mughirah ibn Naufal ibn Harits ibn Abdil Muththalib[15]. Demikian juga khalifah Utsman telah mengangkat Abdullah ibn Abbas sebagai amirul hajj pada tahun 35 H[16].
Kecintaan ahlul bait telah sampai begitu rupa ketika gelombang fitnah
telah menguasai Madinah dan ketika orang-orang munafik mengepung rumah
khalifah Utsman Radhiallahu ‘Anhu, ketika itu Ali Radhiallahu ‘Anhu
mengutus dua putranya Hasan dan Husain untuk membela dan melindungi
khalifah. Dia berkata: “Pergilah kalian berdua dengan membawa pedang
kalian. Berdirilah di depan pintu Utsman. Jangan biarkan siapapun
menyentuhnya.”[17]
Al-Mas’udi mengukuhkan riwayat ini[18].
Begitu pula Ibnu Abbas, putra paman Ali, termasuk orang yang
melindungi Utsman dengan menjaga pintu rumahnya. Akan tetapi Utsman
memerintahkan Ibn Abbas untuk memimpin rombongan haji. Ibn Abbas
menegaskan kepada khalifah: “Demi Allah, wahai amirul mukminin! Jihad
menghadapi mereka lebih aku sukai dari pada haji.” Maka Utsman bersumpah
supaya Ibn Abbas berangkat[19].
Bahkan Ali Radhiallahu ‘Anhu sendiri ikut serta di dalam membela
Utsman dan berkali-kali menghalau kaum demonstran. Dia mengirim dua
putranya dan putra saudaranya Abdullah ibn Ja’far[20]. Hal ini ditegaskan oleh Ibn Maytsam al-Bahrani[21]
dan ditegaskan oleh kitab-kitab mereka bahwa termasuk yang terluka
ketika membela Utsman adalah al-Hasan ibn Ali dan Qumbur maulanya[22].
Nama Utsman begitu dicintai oleh ahlul bait sehingga tidak heran bila
putra-putra ahlul bait diberi nama “Utsman”, karena ingin mendapat
berkah.
Orang pertama yang melakukannya adalah Ali Radhiallahu ‘Anhu.
Al-Mufid menyebutkan bahwa putra kesepuluh Ali bernama Utsman dan ibunya
adalah Ummu al-Banin Hizam ibn Khalid[23].
Al-Ashfahani menyebut bahwa Utsman ini terbunuh bersama saudaranya Hasan di Karbala[24].
Inilah, fakta yang berbicara. Ali Radhiallahu ‘Anhu telah menamai
putranya dengan Utsman. Kita tidak tahu apakah kaum Syi’ah akan berkata
-untuk yang keseribu kali- bahwa itu semua dilakukan oleh Ali karena taqiyyah?!
Tidak aneh jika Ali begitu mencintai khulafa’ rasyidin, karena dia adalah qudwah.
Sebelumnya dia telah menamai anaknya dengan Abu Bakar dan Umar. Ini
dilakukan oleh Ali untuk membuktikan kebohongan anak cucu majusi. Ali
ingin menunjukkan betapa dalamnya cintanya kepada khulafa rasyidin.
Di samping itu banyak terjadi hubungan semenda (mushaharah)
antara keluarga Utsman dan keluarga Ali Radhiallahu ‘Anhu. Zaid ibn Amr
ibn Utsman adalah suami Sakinah bint al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib[25]. Muhammad ibn Abdillah ibn Amr ibn Utsman adalah suami Fathimah bint al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib[26].
[1] Kasyf al-Ghummah. Jilid I. Hal 358; Al-Manaqib. Al-Khawarizmi. Hal 252; Bihar al-Anwar. Jilid X. Hal 38
[2] Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 126; Syarh Nahj al-Balaghah. Ibn Abi al-Hadid.
[3] Hayat al-Qulub. Al-Majlisi jilid II. Hal 558. Bab 61.
[4] Qurb al-Isnad. Hal 6-7.
[5] Al-Muntaha. Jilid I. Hal 108; Tanqih. Jilid III. Hal 73.
[6] Amirul Mukminin. Muhammad jawad, di bawah judul Ali di masa Utsman. Hal 256.
[7] Muruj adz-Dzahab. Jilid II. Hal 298.
[8] Nahj al-Balaghah, tahqiq Subhi Shalih. Hal 234.
[9] ‘Uyun al-Akhbar. Ar-Ridha. Jilid I. Hal 303. Cet Teheran.
[10] Ibid.
[11] Al-Kafi fi al-Furu’. Jilid VIII. Hal 209.
[12] Ar-Rawdhah min al-Kafi. Jilid VIII. Hal 325-326.
[13] Tarikh ibn Khaldun. Jilid II. Hal 103.
[14] Tarikh ath-Thabari; Al-Kamil. Ibn Atsir; Al-Bidayah wa an-Nihayah. Ibn Katsir; Tarikh Ibn Khaldun.
[15] Al-Isti’ab; Usd al-Ghabah; Al-Ishabah.
[16] Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 176.
[17] Ansab al-Asyraf. Al-Baladziri. Jilid V. hal 68-69. Cet Mesir.
[18]
Abu al-Hasan Ali ibn al-Husain ibn Ali al-Mas’udi. Lahir di Baghdad
pada akhir abad ke-3 H. muhsin al-Amin menyebutnya di dalam Thabaqat
al-Muarrikhin termasuk tokoh Syi’ah. Ia berkata: Al-Mas’udi adalah imam
dalam tarikh, pengarang kutab “Muruj adz-Dzahab dan Akgbar az-Zaman.
Tokoh-Tokoh Syi’ah Bagian dua. Jilid I. Hal 130.
[19] Tarikh al-Umam wa al-Muluk.
[20] Syarh Nahj al-Balghah. Ibn Abi al-Hadid. Jilid X. hal 581.
[21] Syarh
ibn Maytsam. Jilid IV. Hal 354. Cet Teheran. Ibn Maytsam adalah Hasyim
ibn Sulaiman ibn Ismail lahir pada pertengahan abad 11 H dan meninggal
tahun 1107 H. menurut mereka ia adalah ‘alim, fadhil, mahir, teliti,
faqih, menguasai tafsir, bahasa Arab dan rijal. Dia juga muhaddits,
pengumpul berbagai informasi yang belum didahului oleh siapapun selain
al-Majlisi (Rawdhat al-Jannat. Jilid VIII hal 181).
[22] Al-Ansab. Al-Baladziri. Jilid V. hal 95.
[23] Al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 186.
[24] Maqatil ath-Thalibin. Hal 83; ‘Umdah ath-Thalib. Hal 365. Cet Najef; Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 213.
[25] Nasab Quraisy.
Az-Zubairi. Jilid IV. Hal 120; Al-Ma’arif. Ibn Qutaibah. Hal 94;
Jamharah Ansab al-Arab. Ibn Hazm. Jilid I. Hal 86; Thabaqat Ibn Sa’d.
jilid VI. Hal 349.
[26] Maqatil ath-Thalibin.
Hal 202; Nasikh at-Tawarikh. Jilid VI. Hal 534; Nasab Quraisy. Jilid
IV. Hal 114; Al-Ma’arif. Hal 93; Thabaqat. Jilid VIII. Hal 348.
Sumber : www.old.gensyiah.com
0 komentar:
Posting Komentar