Bismillah….
Genderang perang islam Vs syi’ah sudah ditabuh sejak dahulu kala,
dari awal muncul agama baru ini pada masa amirul mukminin, Al-Murtadha
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sudah mendapat kecaman keras dari
ulama’ ahlussunnah wal jama’ah baik dari para shahabat dan tabi’in.
bahkan tidak tanggung-tanggung, Ali bin Abi Thalib yang di didik
langsung oleh rasululullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun tidak ridha
dengan kemunculan agama syi’ah, walaupun agama baru ini yang dipelopori
Abdullah bin Saba’ si Yahudi Yaman kononnya mengaku membela hak-hak
ahlul bait nabi. Siapa sih yang tidak cinta
Ahlul bait nabi? Tidak ada seorang mukmin pun melainkan ia pasti cinta
ahlul bait nabi. Akan tetapi jika caranya seperti yang ditempuh Abdullah
bin Saba’ dan anak keturunannya tentu menjadi musibah besar. Oleh
karena itu Ali bin Abi Thalib, sangking geramnya terhadap agama Syi’ah
ini langsung memerintahkan pasukannya untuk membakar mereka.
Perhatikanlah! Ternyata seorang ahlul bait nabi yang mulia, Al-Murtadha
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu tidak ridha dengan kemunculan agama
syi’ah ini.
Lucunya, ada sebagian kecil kaum muslimin yang tidak paham akan
kebobrokan aqidah syi’ah sok menggembar gemborkan persatuan sunny
syi’ah. Apanya yang mau disatukan??? Agama berbeda, kitab suci berbeda,
tempat yang disucikan berbeda, pelaksanaan hajinya berbeda, shalatnya
berbeda, wudhu’nya berbeda, adzannya berbeda, nabinya berbeda, kiblat
berbeda, syari’at berbeda, dalam semua hal terjadi perbedaan. Jadi
kira-kira apanya yang mau disatukan?!! Sama halnya kita menyatukan islam
dengan yahudi atau islam dengan nashara…… wal-‘iyadzu billah
Kaum muslimin, saudara-saudaraku rahimakumullah….
Mungkin tidak semua kita mengetahui secara detail hakekat sebenarnya
syi’ah rafidhah. Jangan dulu menyimpulkan hanya dikarenakan melihat
zhahir akhlak mereka yang baik, ramah, sopan dan beradab. Ingat, mereka
memiliki aqidah taqiyyah (dusta)!! Sebagaimana yang mereka sebutkan
sendiri dalam kitab andalan mereka “la diina liman la taqiyyah lahu”
tidak ada agama bagi yang tidak melakukan taqiyyah. Pembahasan seputar
taqiyyah telah kami singgung pada edisi-edisi yang lalu.
Pada kesempatan kali ini kami ingin mengajak pembaca menilik
kitab-kitab refereni syi’ah, agar kita mengetahui hakekat sebenarnya
aqidah agama ini, yang dengan itu kita akan mengetahui bahwa memang
syi’ah adalah sebuah agama tersendiri diluar islam, tidak hanya sekedar
madzhab atau kelompok islam…. sekali lagi, kita akan menjadikan
kitab-kitab mereka sendiri sebagai referensi.
Dengan memohon pertolongan Allah kami memulai tulisan ini………..
Abdullah bin Saba’, pendiri resmi agama Syi’ah
Diantara keyakinan syi’ah itsna asyariah, mereka mengakui dan
mengetahui bahwa agama syi’ah berasal dari seorang Yahudi yang bernama
Abdullah bin Saba’, dan mereka juga mengakui bahwa Ali membakar mereka
(penganut syi’ah) dan berlepas diri dari mereka. (Lihat kitab “Firaqusy
Syi’ah” hal.22 dan kitab “Ikhtiyar Ma’rifah Ar-Rijal” karya Ath-Thusi,
107)
Syi’ah mengkafirkan Ummahatul Mukminin
Mereka berkata: “Sesungguhnya istri nabi shalallahu
‘alaihi wasallam sangat memungkinkan menjadi kafir sebagaimana istri
nabi Nuh dan istri nabi Luth
Yang dimaksud istri nabi shalallahu ‘alaihi wasallam disini adalah
Ummul Mukminin ‘Aisyah dan bapaknya. (lihat kitab “Haditsul Ifk” karya
Ja’far murtadha, hal.17)
Mereka berkata: “Sesungguhnya ‘Aisyah radhiallahu
‘anha telah murtad sepeninggal nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
sebagaimana telah murtad pula banyak dari para shahabat.” (Lihat kitab
“Asy-Syihabuts Tsaqib fi Bayani ma’na An-Nashib” karya Yusuf Al-Bahrani,
hal.236)
Mereka juga berkata: “Sesungguhnya ‘Aisyah pernah
mengumpulkan empat puluh dinar dari para pengkhianat dan memberikannya
kepada musuh-musuh ‘Ali radhiallahu ‘anhu.” (Lihat kitab “Masyariqu
Anwaril Yakin” karya Rajab Al-Burasi, hal.86)
Mereka juga berkata: “Sesungguhnya ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah melakukan perbuatan keji (perzinahan) wal-‘iyadzu billah-.
Adapun ayat “mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang
dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)” (QS.An-Nuur:26) mereka
(syi’ah) berkata: “ayat ini ditujukan kepada nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam untuk membersihkan beliau dari tuduhan zina bukan untuk
‘Aisyah”
Lihatlah, betapa bencinya mereka terhadap ummul mukminin ‘Aisyah
radhiallahu ‘anha. Tahukah anda, siapakah yang mula-mula menuduh ‘Aisyah
berzina??? Ya… mereka adalah kaum munafikin yang dipelopori Abdullah
bin Ubay bin Salul. Ternyata syi’ah ingin menghidupkan kembali tradisi
kebiasaan kaum munafikin. La haula wala quwwata illa billah
Tidakkah mereka tahu bahwa Allah telah membersihkan dari diri ummul
mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tuduhan keji itu, Allah berfirman:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki
yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita
yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki- laki yang baik
adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang
dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh
itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur:26)
Ayat Ini menunjukkan kesucian ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dari segala
tuduhan yang ditujukan kepadanya. Rasulullah adalah orang yang paling
baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau. Jika
orang-orang syi’ah menuduh ‘Aisyah berzina secara tidak langsung mereka
menuduh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak beres mencari
pasangan hidup atau mereka menuduh rasulullah sebagai pezina pula.
Sikap berlebihan mereka terhadap Imam ‘Ali radhiallahu ‘anhu
Mereka berkata: “Seungguhnya ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,
dialah yang membagi surga dan neraka. Dia akan memasukkan penduduk surga
kedalamnya dan penduduk neraka kedalamnya.” (Lihat kitab “Bashair
Ad-Darajaat” karya Ash-Shaffar, 8/235)
Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah akan memasukkan ke dalam surga siapa saja yang mentaati imam Ali WALAUPUN IA MENDURHAKAI ALLAH, dan sesungguhnya Allah akan memasukkan neraka siapa saja yang menentang imam Ali WALAUPUN IA MENTAATI ALLAH TA’ALA.”(Lihat kitab “Kasyful Yakin fi Fadhail Amiril Mukminin” karya Hasan bin Yusuf Al-Muthahhir Al-Hulli, hal.8)
Mereka berkata: “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib
akan masuk kedalam surga sebelum nabi shalallahu ‘alaih wasallam.”
(Lihat kitab “‘Ilal Asy-Syara’I” karya Ibnu Babawaih Al-Qummi, hal.205)
Mereka berkata: “Sesungguhnya ‘Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anhu mampu menghidupkan orang mati dan menghilangkan
kesusahan dari orang yang sedang ditimpa kesusahan.” (Lihat kitab
“‘Uyunul Mu’jizat” karya Husein Abdul Wahhab, hal.150 dan risalah
“Halalul Masyakil” dan kisah Abdullah Al-Haththab Al-Khurafiyah.
Sikap berlebihan mereka terhadap sayyidah Fathimah radhiallahu ‘anha
Mereka berkata: “bahwa Fathimah, Hasan dan Husein
serta semua keturuan Husein makshum.” (Lihat kitab “‘Aqa’idul Imamiyah”
karya Muhammad Ridha Muzhffar, hal.89 dan 98)
Mereka berkata: “Kalau bukan karena imam Ali tidak
akan diciptakan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan kalau bukan
karena Fathimah tidak akan diciptakan keduanya.” (Lihat kitab
“Al-Asrarul Fathimiyyah” karya Muhammad Al-Mas’udi, hal.98)
Mereka berkata: “Sesunggunya Fathimah radhiallahu
‘anha adalah titisan tuhan yang menjelma dalam bentuk seorang wanita.”
(Lihat kitab “Al-Asrarul Fathimiyyah” karya Muhammad Al-Mas’udi,
hal.355)
Mereka berkata: “Sesungguhnya Fathimah radhiallahu
‘anha mengajak bicara ibunya ketika ia masih dikandungan.” (Lihat kitab
“Fathimah Az-Zahra’ minal Mahdi ilal Lahd” karya Muhammad Al-Qazwaini,
hal.38)
Sekali lagi, pahamilah dengan baik aqidah kufur mereka diatas…..
kemudian simpulkanlah, apakah masih anda menganggap syi’ah bagian dari
islam???? Simpulkanlah dengan penuh keadilan dan ilmu.
Jauhilah beragama dengan hawa nafsu..
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Dan Allah
Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup penglihatannya.
Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Jatsiyyah:23)
“dan tidak ada yang lebih sesat dari orang yang mengikuti hawa
nafsunya tanpa petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash:50)
Bersambung, insya Allah…
Sumber : haulasyiah.wordpress.com
0 komentar:
Posting Komentar